Belajarbijaksana’s Weblog
“Jadikan diri selalu bijak sampai akhir hayatmu”

Agu
07

Oleh: Muhammad Zuhri

Kematian sebagai kemungkinan

Sebagai kemungkinan ‘kematian’ merupakan sesuatu yang unik dan menyimpan misteri bagi kebanyakan manusia. Akal kita hanya dapat melihatnya sebagai satu-satunya kemungkinan yang kehadirannya akan merampas semua kemungkinan yang ada.

Kaum agamawan menanggapinya dengan memanfaatkannya sebagai nasehat yang ampuh untuk memperbaiki kwalitas kehidupan penganutnya. dan menempatkannya sebagai masalah yang paling sentral di dalam ajarannya. Tak ada agama yang tidak menjanjikan kematian yang sempurna.


Kematian sebagai kenyataan

Secara substansial ‘kematian’ hanyalah merupakan sisi lain dari kehidupan. Bila sisi yang satu tiada, sisi yang lain tak akan muncul. Keberadaannya menjadi tak terpisahkan dari wujud kehidupan. Sehingga bisa dikatakan bahwa setiap makhluk hidup sejak sediakala telah mendukung kematiannya sendiri. Meskipun demikian ‘kematian’ tetap merupakan sesuatu yang ditakuti orang.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: “Siapakah yang sebenarnya menyimpan misteri, kematian atau manusianya ?”

Menurut ajaran tasawuf, insanlah yang merupakan rahasia Allah (menyimpan misteri), sedang kematian hanya merupakan ‘the milestone of human life’ yang segera akan disusul oleh perjalan hidup selanjutnya (sisi rangkapannya, kematian).


Makna kematian yang lebih bermakna

Kaum Sufi memberi makna ‘kematian’ sebagai momen penobatan seseorang untuk menjadi raja yang sebenarnya. Dengan demikian ‘kematian’ menurut ajaran tasawuf bermakna sebagai saat dimana seseorang mulai melaksanakan peran ketuhanannya di muka bumi.

Kematian jasmaniah tidak dianggap sebagai kematian, karena tidak menawarkan perubahan yang bermakna bagi kehidupan. Seorang penjahat tidak akan berubah menjadi baik dengan datangnya kematian jasmaniah.

“Dan siapa yang buta di dunia ini, ia akan buta pula di akherat, dan bahkan lebih sesat lagi jalannya.” (Q. Al-Isra’ : 72)

Read the rest of this entry »

Agu
05

Kalau ingat masa-masa SMA jadi ingat semua kenakalan-kenakalan yang pernah kita lakuin sewaktu di SMA. Tetapi ini bukanlah masa SMA yang sesungguhnya. Fahmi, Dodi, Sugia, Kohar, Ikrar, Deden, Candra, Dimas, dan saya sendiri menjadi anak SMA sehari. Walaupun umur-umur kita sudah tak layak untuk dibilang anak SMA, tapi wajah-wajah kita yang membuat masih pantas memakai seragam SMA. Cuma flashback aja ko’. Kita ini bukan genk motor atau genk nero, tapi kita ini yang menjunjung nilai-nilai persahabatan. (Waduh, bahasa terlalu tinggi, hehe).

Jul
19

Tiada kata lain selain “Subhanallah” Jika melihat kebesaran Allah SWT, yang begitu indahnya.

Jul
19